Langsung ke konten utama

Mengapa Ada Orang yang Menulis?

https://images.unsplash.com/photo-1534412027333-5e25ba9074f5?ixlib=rb-1.2.1&ixid=eyJhcHBfaWQiOjEyMDd9&auto=format&fit=crop&w=1441&q=80

Kali ini yang teman-teman baca adalah sebuah tulisan juga. Sebuah tulisan digital, hasil ketikan, rekaman kode-kode elektronik. Bukan sebuah bentuk goresan batang keras yang memiliki atom karbon di dalamnya. Haha.

Dahulu, manusia sebenarnya belum mengenal tulisan. Lalu untuk apa mereka menulis? Tentunya ada banyak kepentingan di dalamnya. Dengan menulis, informasi dapat tersampaikan tanpa harus berbicara dengan lisan. Dalam banyak kasus, manusia zaman dahulu meninggalkan sebuah tulisan sebagai tanda sejarah. Diantara contohnya ialah prasasti-prasasti yang diukir di permukaan batu, wasiat yang ditulis di lembaran daun papyrus, dan ayat-ayat kisah yang ditulis pada gulungan kulit.

Hingga ketika kertas ditemukan oleh bangsa Cina, perkembangan tulis-menulis semakin pesat. Raja-raja mengirimkan pesan kepada bawahannya, para penyair menuliskan bait-bait sajaknya, serta para ilmuwan yang menuliskan karyanya.

Dari hari ke hari perkembangan teknologi penulisan pun semakin maju. Dan tujuan orang menulis pun semakin tak karuan.

Pada dasarnya tulisan adalah untuk menyampaikan informasi. Sekarang tergantung apa yang ada di balik informasi tersebut. Sebuah tulisan bisa membelokkan sejarah, sebuah tulisan bisa menyamarkan kebenaran, sebuah tulisan pun bisa jadi uang.

Mengapa ada orang yang menulis?
Karena ada manusia yang bisa membaca dan yang tidak bisa membaca.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cuma Satu Paragraf

Kadang selalu ada halangan ketika kita mau menulis sesuatu. Tak punya ide untuk dituliskan. Tak menyisihkan waktu untuk menuliskan. Sengaja malas tak mengungkapkan. Tapi nyatanya, seharusnya jika kau memiliki sebuah ide, sepantasnya engkau ikat ide itu. Kata para ulama, jika kau menuntut ilmu, maka ikatlah ilmu itu dengan tulisan. Karena ia(ilmu) itu bagai binatang buruan yang akan dengan mudah lepas jika kau tak mengikatnya. Seperti judulnya. Ini cuma satu paragraf. Sekali lagi, jika kau punya ide, ikatlah ia! Publikasikan walau cuma satu paragraf!

Dimana kamu jajan?

Dimana kamu jajan? Udah pada ngopi belum? Ngomong-ngomong tentang kopi, ente jajan kopi di mana? Tapi nggak usah dijawab juga nggak apa-apa. Soalnya ane juga nggak mau bahas tentang kopi. Kalo ente seumuran ane, pas waktu TK dulu mesti sukanya jajan mainan. Waktu SD pun awal-awal juga masih suka beli mainan tapi kemudian ya pindahlah, jajan makanan. Gulali, siomay, gorengan, jamu, buah-buahan (sampai buah asem aja dulu dijual lho guys), ada biji ketapang, ada lemper dan beraneka ragam makanan tradisional lainnya. Waktu SMP kalau Ane sih nggak jauh berbeda sama SD. Yang pasti nggak beli mainan lagi. Mulai waktu SMA mungkin itu adalah masa perubahan yang cukup besar. Bagaimana tidak, waktu SMA itu saya baru tahu yang ada namanya Cafe, ada yang namanya restoran, lebih tepatnya saya itu baru tahu langsung. Maklumlah saya ini kan cah ndeso . Beberapa waktu yang lalu, saya itu terpikir oleh sebuah ucapan dari seseorang. “Jajan di warung tetangga itu lebih mulia daripada jajan di...

Apa yang Kau Ambil Dari Kawan (Bagian II)

Setelah lama tidak menulis, baru ingat kalau punya hutang nulis sambungan kemarin. Ya sudah, langsung gas saja. Beberapa waktu yang telah lalu, kami(saya dan temen-temen pondok) berolahraga pagi seperti biasa. Ada beberapa temen yang gak ikut entah kemana perginya. Setelah olahraga selesai, Ustadz pun mengingatkan kami seperti biasa, "jangan lupa bersih-bersih, sarapan, ...". Singkat cerita, Ustadz menyampaikan sesuatu yang baru yang belum pernah kami dengar sebelumnya dari beliau. Sebuah nasihat. Peduli kepada teman. Itulah inti nasihat beliau. Lalu seperti apakah contoh riil dari bentuk kepedulian terhadap teman kita? Ketika adzan berkumandang dan kita bangun sedang teman kita masih tidur, kita bagusnya membangunkannya. Ketika teman melakukan sebuah kesalahan, nasihatilah ia di belakang tentu dengan nasihat yang lembut jua. Ketika teman meminta bantuan dan kita sanggup melakukannya(tidak sedang punya udzur) serta itu merupakan sebuah kebaikan, tidak ada alasan y...