Langsung ke konten utama

Apa yang Kau Ambil Dari Kawan (Bagian I)

https://images.unsplash.com/photo-1534423861386-85a16f5d13fd?ixlib=rb-1.2.1&ixid=eyJhcHBfaWQiOjEyMDd9&auto=format&fit=crop&w=750&q=80


Apakah kamu memiliki teman? Mestinya punya. Dengan beragam keunikan yang dimiliki setiap individu tersebut, kita sering berinteraksi dengan mereka.

Punya sebuah cermin? Kalau kau tidak punya, maka akan kukatakan bahwa teman adalah cerminan dari kita. Kurang lebih seperti itu. Apa yang kita lakukan akan merefleksikan siapa diri kita. Misal saja nih ya jika kita berteman dengan pemain moba. Kemudian kita sering duduk di sampingnya yang mana dia sedang mendulek-dulek smartphonenya. Maka secara tidak langsung kita pasti juga sedikit banyak tahu tentang apa yang berhubungan dengan moba. Double kill, enemy killing spree, victory, dan segenap keluarga kosakata yang ada di sana.

Tapi bukan hanya itu saja yang kumaksud. Di lain hal yang bisa berpengaruh untuk kita ya, ia jadi nggak bisa diganggu gugat kalau sedang main moba dan yang sejenisnya.

Ketika kita ajak dia makan misalnya, terkadang si dia lebih memprioritaskan moba ketimbang makan bareng. Ia jadi tak acuh dengan kita. Dan kita jadi tak acuh dengan dia. Jadi cermin bukan?

Jadi, jangan temenan sama pemain moba, moba kok analog.

Eh bukan. Tidak semua moba analog, dan tidak semua yang main moba itu jelek. Main moba itu boleh, asal tidak kelewatan. Karena sesuatu yang kelewatan itu bisa jadi bikin nyesel. Gimana nggak nyesel, harusnya nge-kill eh tau-tau ditelpon temen. Kan kelewatan banget tuh yang jadi temen!

Kalau misalnya kamu temenannya sama si Jess No Limit, ya bisa aja kamu ngrasain naik Ferrarinya.

Kalau misalnya kamu temenan sama saya? Maaf saya bukan pemain moba.

bersambung..

Wedomartani, 10 Februari 2019 - 22:33 WIB

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cuma Satu Paragraf

Kadang selalu ada halangan ketika kita mau menulis sesuatu. Tak punya ide untuk dituliskan. Tak menyisihkan waktu untuk menuliskan. Sengaja malas tak mengungkapkan. Tapi nyatanya, seharusnya jika kau memiliki sebuah ide, sepantasnya engkau ikat ide itu. Kata para ulama, jika kau menuntut ilmu, maka ikatlah ilmu itu dengan tulisan. Karena ia(ilmu) itu bagai binatang buruan yang akan dengan mudah lepas jika kau tak mengikatnya. Seperti judulnya. Ini cuma satu paragraf. Sekali lagi, jika kau punya ide, ikatlah ia! Publikasikan walau cuma satu paragraf!

Dimana kamu jajan?

Dimana kamu jajan? Udah pada ngopi belum? Ngomong-ngomong tentang kopi, ente jajan kopi di mana? Tapi nggak usah dijawab juga nggak apa-apa. Soalnya ane juga nggak mau bahas tentang kopi. Kalo ente seumuran ane, pas waktu TK dulu mesti sukanya jajan mainan. Waktu SD pun awal-awal juga masih suka beli mainan tapi kemudian ya pindahlah, jajan makanan. Gulali, siomay, gorengan, jamu, buah-buahan (sampai buah asem aja dulu dijual lho guys), ada biji ketapang, ada lemper dan beraneka ragam makanan tradisional lainnya. Waktu SMP kalau Ane sih nggak jauh berbeda sama SD. Yang pasti nggak beli mainan lagi. Mulai waktu SMA mungkin itu adalah masa perubahan yang cukup besar. Bagaimana tidak, waktu SMA itu saya baru tahu yang ada namanya Cafe, ada yang namanya restoran, lebih tepatnya saya itu baru tahu langsung. Maklumlah saya ini kan cah ndeso . Beberapa waktu yang lalu, saya itu terpikir oleh sebuah ucapan dari seseorang. “Jajan di warung tetangga itu lebih mulia daripada jajan di...

Apa yang Kau Ambil Dari Kawan (Bagian II)

Setelah lama tidak menulis, baru ingat kalau punya hutang nulis sambungan kemarin. Ya sudah, langsung gas saja. Beberapa waktu yang telah lalu, kami(saya dan temen-temen pondok) berolahraga pagi seperti biasa. Ada beberapa temen yang gak ikut entah kemana perginya. Setelah olahraga selesai, Ustadz pun mengingatkan kami seperti biasa, "jangan lupa bersih-bersih, sarapan, ...". Singkat cerita, Ustadz menyampaikan sesuatu yang baru yang belum pernah kami dengar sebelumnya dari beliau. Sebuah nasihat. Peduli kepada teman. Itulah inti nasihat beliau. Lalu seperti apakah contoh riil dari bentuk kepedulian terhadap teman kita? Ketika adzan berkumandang dan kita bangun sedang teman kita masih tidur, kita bagusnya membangunkannya. Ketika teman melakukan sebuah kesalahan, nasihatilah ia di belakang tentu dengan nasihat yang lembut jua. Ketika teman meminta bantuan dan kita sanggup melakukannya(tidak sedang punya udzur) serta itu merupakan sebuah kebaikan, tidak ada alasan y...